Terbaru! Daftar Job Jepang Untuk Buta Warna Parsial 2026

job jepang untuk buta warna parsial

Minat bekerja di Jepang terus meningkat, termasuk dari calon pekerja Indonesia yang memiliki keterbatasan tertentu, salah satunya buta warna parsial.

Banyak orang langsung mengasumsikan bahwa buta warna adalah penghalang mutlak untuk kerja di Jepang.

Padahal, asumsi ini tidak sepenuhnya benar. Faktanya, Jepang memiliki sistem rekrutmen kerja yang cukup spesifik dan berbasis fungsi.

Artinya, selama kondisi kesehatan tidak mengganggu keselamatan dan kualitas kerja, maka peluang tetap terbuka.

Apa Itu Buta Warna Parsial?

Sebelum membahas jenis pekerjaan, penting untuk memahami bagaimana Jepang memandang kondisi buta warna parsial.

Dalam istilah medis Jepang, buta warna dikenal sebagai 色覚異常(しきかくいじょう / shikikaku ijō).

Kondisi ini terbagi menjadi total dan parsial. Yang paling umum adalah parsial, seperti kesulitan membedakan warna merah–hijau.

Dalam konteks ketenagakerjaan Jepang, yang dinilai bukan sekadar kondisi medisnya, tetapi dampaknya terhadap tugas kerja (業務への支障 / gyōmu e no shishō). Inilah celah peluang yang sering tidak dipahami calon pekerja.

Artikel Terkait: 15 Job Magang Dengan Gaji Tertinggi di Jepang

Apa Saja Jenis Job Jepang untuk Buta Warna Parsial?

Setelah memahami konteksnya, berikut adalah bidang kerja di Jepang yang secara pengalaman lapangan relatif lebih ramah bagi buta warna parsial.

1. Pekerjaan Manufaktur Non-Visual Presisi Tinggi

Bidang manufaktur Jepang sangat luas. Tidak semua lini produksi membutuhkan identifikasi warna detail.

Dalam banyak kasus, pekerja hanya mengikuti standar berbasis bentuk, ukuran, atau alat otomatis.

Selama pekerjaan tidak melibatkan kabel warna kritis atau indikator keselamatan berbasis warna, peluang tetap terbuka.

Perusahaan biasanya menilai berdasarkan 作業内容(さぎょうないよう / sagyō naiyō) atau isi pekerjaan secara spesifik.

2. Pekerjaan Packing dan Logistik Gudang

Pekerjaan seperti pengepakan, penyortiran barang non-kimia, dan pengelolaan gudang termasuk kategori yang sering dianggap aman bagi pekerja dengan buta warna parsial.

Label dan sistem di Jepang umumnya berbasis kode, angka, dan barcode, bukan warna semata. Inilah alasan mengapa sektor ini sering menjadi opsi job Jepang untuk buta warna parsial.

3. Bidang Pertanian dan Peternakan Jepang

Sektor 農業(のうぎょう / nōgyō) dan peternakan di Jepang sangat membutuhkan tenaga kerja asing.

Aktivitas kerja lebih mengandalkan rutinitas fisik, waktu, dan instruksi langsung, bukan analisis warna kompleks.

Selama mampu bekerja sesuai SOP, kondisi buta warna parsial jarang menjadi hambatan utama.

4. Pekerjaan Cleaning Service dan Building Maintenance

Bidang 清掃業(せいそうぎょう / seisō gyō) atau kebersihan bangunan adalah salah satu sektor dengan toleransi kesehatan yang relatif fleksibel.

Instruksi kerja bersifat prosedural dan berbasis alat. Selama bahan kimia diberi label jelas dan pekerja mengikuti pelatihan, buta warna parsial biasanya tidak menjadi faktor penolakan.

job jepang untuk buta warna parsial

Apakah Buta Warna Parsial Selalu Gagal Medical Check Up Jepang?

Medical check up atau 健康診断(けんこうしんだん / kenkō shindan) memang menjadi tahap wajib. N

amun hasilnya tidak otomatis “lulus atau gagal”. Dokter akan mencatat kondisi dan perusahaan akan menilai apakah kondisi tersebut relevan dengan pekerjaan yang dilamar.

Kesalahan umum pencari kerja adalah menyamaratakan semua job Jepang seolah membutuhkan persepsi warna sempurna. Padahal, banyak pekerjaan yang tidak bergantung pada warna sebagai aspek keselamatan utama.

Bagaimana Cara Melamar Job Jepang bagi Penderita Buta Warna Parsial?

Sebelum melamar kerja ke Jepang, pelamar dengan kondisi buta warna parsial perlu memahami bahwa sistem rekrutmen di Jepang sangat menekankan keterbukaan, ketepatan, dan kesesuaian kemampuan dengan tugas kerja.

Dengan pendekatan yang tepat, peluang untuk diterima tetap terbuka. Berikut beberapa strategi penting yang dapat diterapkan.

1. Bersikap Jujur Sejak Tahap Pemeriksaan Kesehatan

Kejujuran menjadi nilai utama dalam budaya kerja Jepang atau dikenal dengan istilah 正直(しょうじき / shōjiki).

Pelamar disarankan untuk menyampaikan kondisi kesehatan secara terbuka sejak pemeriksaan awal.

Menyembunyikan kondisi buta warna parsial justru dapat menimbulkan risiko serius, mulai dari pembatalan kontrak hingga pemulangan setelah tiba di Jepang.

Selama kondisi tersebut tidak menghambat pelaksanaan tugas kerja, perusahaan umumnya akan melakukan penilaian secara objektif.

2. Memahami Job Description Secara Detail

Banyak pelamar gagal bukan karena keterbatasan fisik, melainkan karena kurang memahami rincian tugas pekerjaan.

Oleh karena itu, fokus utama sebaiknya diarahkan pada isi job description, bukan sekadar nama posisi pekerjaan.

Dengan memahami detail aktivitas harian, alat kerja, serta standar keselamatan, pelamar dapat menilai apakah kondisi buta warna parsial berpotensi memengaruhi kinerja atau tidak.

3. Memilih Jalur Resmi dengan Sistem Penilaian Jelas

Pelamar disarankan untuk memilih jalur resmi seperti program magang teknis atau skema 特定技能(とくていぎのう / Tokutei Ginō).

Jalur ini memiliki sistem seleksi dan evaluasi kerja yang lebih terstruktur, transparan, serta mempertimbangkan kemampuan kerja secara nyata.

Dalam banyak kasus, penilaian lebih difokuskan pada performa dan kepatuhan terhadap prosedur kerja, bukan pada keterbatasan non-kritis seperti buta warna parsial.

Masalah terbesar bukan pada Jepang, tetapi kurangnya literasi informasi di Indonesia. Banyak calon pekerja sudah menyerah bahkan sebelum mencoba, hanya karena mendengar “katanya tidak bisa”.

Padahal, di lapangan, keputusan akhir sering ada di perusahaan pengguna, bukan sekadar hasil tes Ishihara. Jepang lebih pragmatis daripada yang dibayangkan.

job jepang untuk buta warna parsial

Kesimpulan

Job Jepang untuk buta warna parsial bukan mitos, tapi juga bukan jalan tanpa tantangan. Peluang tetap ada selama jenis pekerjaan tidak bergantung pada persepsi warna sebagai faktor keselamatan utama.

Dengan memahami sistem kerja Jepang, memilih sektor yang tepat, serta bersikap jujur dan strategis, calon pekerja dengan buta warna parsial tetap memiliki kesempatan realistis untuk bekerja di Jepang secara legal dan profesional.

FAQ

Apakah buta warna parsial mempengaruhi peluang lolos visa kerja Jepang?

Buta warna parsial tidak secara langsung mempengaruhi persetujuan visa. Visa kerja Jepang ditentukan oleh jenis pekerjaan, kontrak kerja, serta kelengkapan dokumen. Selama perusahaan penerima menyatakan layak bekerja dan hasil medical tidak bertentangan dengan tugas kerja, visa tetap bisa diproses.

2. Apakah hasil tes buta warna bisa berbeda antara Indonesia dan Jepang?

Ya, ini sering terjadi. Tes awal di Indonesia biasanya bersifat skrining. Di Jepang, evaluasi kesehatan lebih menekankan pada fungsi kerja, bukan sekadar hasil angka. Ada kasus di mana peserta dinyatakan buta warna parsial di Indonesia, namun tetap diterima bekerja karena tidak mengganggu pekerjaan.

3. Apakah buta warna parsial bisa “dinegosiasikan” saat rekrutmen?

Bukan dinegosiasikan, tapi diklarifikasi. Perusahaan Jepang cenderung terbuka jika pelamar mampu menjelaskan keterbatasannya secara jujur dan menunjukkan bahwa pekerjaan bisa dilakukan dengan aman dan konsisten sesuai SOP.

4. Apakah buta warna parsial mempengaruhi kenaikan jabatan di Jepang?

Secara umum, tidak secara otomatis. Kenaikan jabatan di Jepang lebih ditentukan oleh kinerja, kedisiplinan, dan loyalitas kerja. Namun, jika jabatan baru membutuhkan tanggung jawab yang berkaitan langsung dengan identifikasi warna kritis, evaluasi ulang bisa dilakukan.

5. Apakah ada pelatihan khusus di Jepang untuk pekerja dengan keterbatasan visual?

Pada beberapa perusahaan besar, terutama manufaktur dan logistik, tersedia penyesuaian kerja (作業配慮 / sagyō hairyo) seperti penggunaan simbol, angka, atau sistem otomatis. Meski tidak disebut sebagai pelatihan khusus buta warna, sistem ini membantu pekerja dengan keterbatasan visual bekerja lebih optimal.