Perubahan kebijakan ketenagakerjaan Jepang kembali menjadi sorotan, terutama setelah pemerintah Jepang secara resmi memperkenalkan sistem Ikusei Shuro.
Istilah ini mulai banyak dibahas oleh media Jepang, lembaga ketenagakerjaan, hingga platform informasi kerja internasional.
Ikusei Shurō diposisikan sebagai pengganti sistem magang teknis atau Ginou Jisshu yang selama puluhan tahun menjadi pintu masuk utama tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia.
Bagi calon pekerja migran, memahami apa itu Ikusei Shuro bukan lagi sekadar tambahan informasi, melainkan kebutuhan dasar sebelum mengambil keputusan bekerja ke Jepang.
Sistem ini bukan hanya mengganti nama program lama, tetapi membawa perubahan struktural dalam cara Jepang merekrut, melatih, dan mempertahankan tenaga kerja asing.
Apa Itu Ikusei Shuro ?
Secara resmi, Ikusei Shuro adalah kerangka kerja pengembangan sumber daya manusia asing yang dirancang untuk menjawab dua persoalan besar Jepang.
Negeri Sakura tersebut mengalami krisis tenaga kerja dan kegagalan sistem magang teknis dalam memenuhi tujuan awalnya.
Berbeda dengan Ginou Jisshu yang diklaim sebagai program transfer keterampilan, Ikusei Shuurou sejak awal diakui sebagai sistem kerja berbasis pelatihan.
Peserta tidak lagi dianggap sebagai pemagang sementara, tetapi sebagai pekerja yang sedang dibina agar mencapai standar keterampilan tertentu.
Banyak situs resmi dan analisis kebijakan Jepang menekankan bahwa Ikusei Shuurou berfungsi sebagai jembatan langsung menuju Tokutei Ginou, bukan sebagai program yang berdiri sendiri tanpa arah lanjutan.
Apa Alasan Pemerintah Jepang Mengganti Ginou Jisshu?
Pada awal penerapannya, program Ginou Jisshu dirancang sebagai sarana alih teknologi dan keterampilan dari Jepang kepada negara-negara berkembang.
Konsep dasarnya adalah memberikan pengalaman kerja sekaligus pelatihan teknis bagi tenaga asing agar keterampilan tersebut dapat dibawa kembali ke negara asal. Namun, dalam praktiknya, tujuan ideal tersebut perlahan bergeser.
Seiring berjalannya waktu, Ginou Jisshu justru menuai banyak kritik, terutama terkait pelanggaran hak asasi manusia dan praktik ketenagakerjaan yang tidak adil.
Berbagai laporan mengungkap bahwa sebagian peserta magang harus bekerja dalam kondisi yang jauh dari kata layak.
Upah yang diterima kerap berada di bawah standar, jam kerja berlebihan, hingga perlakuan diskriminatif dan kasus pelecehan di tempat kerja menjadi isu yang berulang.
Situasi ini tidak hanya merugikan peserta magang, tetapi juga berdampak negatif terhadap citra Jepang di mata internasional.
Sebagai negara maju yang dikenal menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, praktik-praktik tersebut dianggap bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia.
Artikel Menarik: Gaji Magang dan TG di Jepang
Apa Tujuan Program Ikusei Shuro?
Secara umum, Ikusei Shuro dirancang untuk memperoleh sekaligus mengembangkan sumber daya manusia asing yang berkualitas.
Pemerintah Jepang ingin menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, aman, dan manusiawi bagi pekerja asing, sehingga mereka dapat bekerja secara produktif dan berkelanjutan.
Selain itu, program ini juga bertujuan meningkatkan daya tarik Jepang sebagai negara tujuan kerja. Dengan sistem yang lebih transparan dan berorientasi pada pengembangan keterampilan, Jepang berharap dapat bersaing dengan negara lain dalam menarik tenaga kerja global.
Apa Perbedaan Ikusei Shuro dan Ginou Jisshu?
Ikusei Shuro dan Ginou Jisshu sama-sama dikenal sebagai jalur kerja bagi tenaga asing di Jepang, tetapi keduanya memiliki konsep dan tujuan yang cukup berbeda.
Ginou Jisshu atau program magang teknis lebih dulu dikenal dan selama bertahun-tahun digunakan sebagai pintu masuk tenaga kerja asing.
Sementara itu, Ikusei Shuurou hadir sebagai sistem baru yang dirancang untuk memperbaiki berbagai kelemahan dari program sebelumnya.
1. Tujuan Program
Ginou Jisshu pada awalnya bertujuan sebagai program transfer keterampilan, meskipun dalam praktiknya sering berfungsi sebagai penyedia tenaga kerja.
Ikusei Shurō sejak awal secara terbuka dirancang sebagai sistem pengembangan tenaga kerja agar peserta siap menjadi pekerja terampil di Jepang.
2. Status Peserta
Peserta Ginou Jisshu diposisikan sebagai peserta magang dengan ruang kerja yang terbatas.
Sebaliknya, Ikusei Shuurou memandang peserta sebagai pekerja yang sedang dibina, sehingga pendekatannya lebih profesional dan berorientasi pada peningkatan kompetensi.
3. Arah Karier
Ginou Jisshu sering kali tidak memberikan kepastian jalur karier setelah program tersebut selesai.
Ikusei Shuro justru disiapkan sebagai jembatan menuju Tokutei Ginou, sehingga peserta memiliki peluang kerja jangka menengah hingga panjang di Jepang.
4. Perlindungan dan Pengawasan
Dalam praktiknya, Ginou Jisshu kerap dikritik karena lemahnya perlindungan terhadap peserta. Ikusei Shuurou hadir dengan sistem pengawasan yang lebih ketat dan regulasi yang menekankan hak serta kesejahteraan pekerja asing.
5. Fokus Pengembangan Keterampilan
Ginou Jisshu lebih menekankan pengalaman kerja selama masa magang. Ikusei Shuro memberikan perhatian lebih pada proses pembinaan, pelatihan, dan evaluasi keterampilan agar peserta benar-benar siap bersaing di dunia kerja Jepang.
Secara keseluruhan, Ikusei Shuurou dapat dipahami sebagai bentuk penyempurnaan dari Ginou Jisshu, dengan pendekatan yang lebih transparan, berorientasi masa depan, dan lebih berpihak pada pengembangan tenaga kerja asing.
Bagaimana Skema Program Ikusei Shuro?
Dalam skema Ikusei Shurō, peserta umumnya dikontrak untuk masa kerja rata-rata antara satu hingga tiga tahun.
Selama periode tersebut, peserta tidak hanya bekerja, tetapi juga menjalani proses pelatihan dan pembinaan keterampilan secara bertahap.
Dari sisi pendapatan, gaji yang diterima peserta berada pada kisaran 120.000 yen hingga 150.000 yen per bulan, tergantung sektor dan wilayah kerja.
Angka ini mengikuti standar upah yang berlaku dan dirancang agar peserta dapat hidup layak selama bekerja di Jepang.
Menariknya, peserta yang dinilai telah memiliki keterampilan dan kompetensi memadai diberi kesempatan untuk meningkatkan status visanya menjadi Specified Skill Worker atau Tokutei Ginou. Hal ini membuka peluang kerja yang lebih panjang dan stabil di Jepang.
Artikel Menarik: Matching Job Itu Apa
Dampak Ikusei Shuro bagi Pekerja Indonesia
Bagi tenaga kerja Indonesia, Ikusei Shuro membuka peluang baru yang lebih terstruktur. Sistem ini memberikan arah yang jelas sejak awal, mulai dari pelatihan, kerja, hingga kemungkinan peningkatan status.
Namun, Ikusei Shuro juga menuntut kesiapan yang lebih serius. Kemampuan bahasa Jepang, etos kerja, dan pemahaman kontrak menjadi faktor krusial. Tanpa persiapan matang, sistem ini justru bisa menjadi beban, bukan peluang.
Di sinilah pentingnya literasi informasi. Tidak cukup hanya tahu apa itu Ikusei Shuro, tetapi juga memahami bagaimana sistem ini bekerja dalam praktik.
Masa Depan Ikusei Shuro Pada Kerja Asing di Jepang
Banyak analis menyebut Ikusei Shuro sebagai awal dari era baru kebijakan tenaga kerja asing Jepang. Sistem ini mencerminkan pergeseran dari pendekatan sementara menuju pendekatan berkelanjutan.
Jika diterapkan secara konsisten, Ikusei Shuro berpotensi memperbaiki kualitas hidup pekerja asing sekaligus membantu Jepang menjaga stabilitas ekonominya.
Namun, efektivitas sistem ini tetap bergantung pada pengawasan, transparansi, dan kesiapan semua pihak yang terlibat.
Untuk memahami Ikusei Shuro secara utuh, sistem ini perlu ditempatkan dalam peta besar kebijakan migrasi Jepang.
Ikusei Shuro tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi fase awal dalam skema kerja jangka menengah hingga panjang. Setelah menyelesaikan periode pengembangan, peserta diarahkan untuk naik ke Tokutei Ginou, yang memungkinkan masa tinggal lebih lama dan akses kerja yang lebih luas.
Berbagai analisis kebijakan menekankan bahwa Jepang kini tidak lagi sekadar mencari tenaga kerja sementara, melainkan tenaga kerja yang bisa bertahan dan berkontribusi dalam jangka waktu lama. Ikusei Shuro menjadi fondasi dari perubahan paradigma tersebut.
Kesimpulan
Ikusei Shuro bukan sekadar pengganti magang atau Ginou Jisshu, melainkan reformasi besar dalam sistem ketenagakerjaan Jepang.
Berbagai website dan media telah membahasnya dari beragam sudut pandang, mulai dari peluang kerja hingga perubahan kebijakan.
Namun, pemahaman yang utuh hanya bisa diperoleh jika Ikusei Shuro dilihat sebagai sistem pengembangan jangka panjang, bukan jalan pintas bekerja ke Jepang.
Bagi tenaga kerja Indonesia, Ikusei Shuro bisa menjadi peluang besar, asalkan diiringi persiapan, informasi yang valid, dan sikap profesional.










Leave a Reply