Berapa Gaji Building Cleaning di Jepang? Cek di Sini!

gaji building cleaning di jepang

Bekerja di Jepang masih menjadi impian banyak masyarakat Indonesia, salah satunya melalui sektor pekerjaan non-formal yang stabil dan terbuka bagi tenaga asing.

Salah satu posisi yang cukup banyak diminati adalah building cleaning atau petugas kebersihan gedung.

Meski sering dianggap pekerjaan sederhana, profesi ini di Jepang justru memiliki sistem kerja, standar, dan gaji yang relatif jelas serta terlindungi.

Artikel ini akan membahas secara mendalam gaji building cleaning di Jepang, sistem kerjanya, istilah Jepang yang digunakan, hingga realita yang perlu dipahami calon pekerja sebelum berangkat.

Apa Itu Pekerjaan Building Cleaning di Jepang?

Dalam bahasa Jepang, building cleaning disebut ビルクリーニング(Birukuriiningu). Istilah ini merujuk pada pekerjaan kebersihan profesional yang dilakukan di gedung perkantoran, rumah sakit, hotel, pusat perbelanjaan, hingga fasilitas umum.

Berbeda dengan persepsi di Indonesia, petugas building cleaning di Jepang tidak bekerja secara asal. Mereka mengikuti standar operasional ketat, jadwal terstruktur, dan pembagian area yang jelas.

Pekerjaan ini berada di bawah pengawasan perusahaan jasa kebersihan resmi, bukan pekerjaan informal perorangan.

Secara umum, profesi ini masuk dalam kategori tokutei ginou (特定技能) atau juga tersedia melalui jalur magang teknis, tergantung skema keberangkatan.

Apa Faktor yang Mempengaruhi Besaran Gaji?

Sebelum masuk ke rincian teknis, penting dipahami bahwa gaji building cleaning di Jepang tidak bersifat tunggal. Ada beberapa faktor utama yang memengaruhi besarannya.

1. Lokasi kerja

Wilayah metropolitan seperti Tokyo, Kanagawa, atau Osaka umumnya menawarkan upah lebih tinggi dibanding daerah rural. Hal ini disesuaikan dengan standar 最低賃金(Saitei Chingin) atau upah minimum regional.

2. Jenis bangunan

Membersihkan rumah sakit atau gedung perkantoran besar biasanya memiliki upah lebih tinggi dibanding apartemen kecil karena standar kebersihannya lebih ketat.

3. Jam kerja dan shift

Pekerjaan malam hari atau dini hari sering mendapatkan tambahan upah. Dalam istilah Jepang disebut 深夜手当(Shinya Teate)atau tunjangan kerja malam.

4. Status kontrak

Pekerja dengan status tokutei ginou umumnya memiliki kontrak dan gaji lebih stabil dibanding pekerja magang.

    Artikel Terkait: Gaji Magang dan TG di Jepang

    Bagaimana Sistem Kerja Building Cleaning di Jepang?

    Sebelum membahas teknis pekerjaan, perlu dipahami bahwa budaya kerja Jepang sangat menekankan ketepatan waktu, kerapihan, dan tanggung jawab personal.

    Pekerjaan building cleaning biasanya mencakup beberapa tugas utama, seperti membersihkan lantai, toilet, kaca, area publik, hingga pengelolaan sampah sesuai kategori.

    Dalam bahasa Jepang, sampah dibedakan menjadi beberapa jenis seperti 燃えるゴミ(Moeru Gomi) dan 燃えないゴミ(Moenai Gomi), dan kesalahan memilah bisa berujung teguran serius.

    Jam kerja umumnya dimulai pagi hari atau setelah jam operasional gedung selesai. Banyak pekerja cleaning yang bekerja saat gedung masih kosong untuk menjaga kenyamanan pengguna fasilitas.

    Berapa Gaji Building Cleaning di Jepang?

    Jika berbicara soal gaji building cleaning di Jepang, penting dipahami bahwa sistem pengupahan di Jepang mengacu pada upah per jam, bukan gaji bulanan tetap seperti di Indonesia.

    Rata-rata gaji building cleaning di Jepang berada di kisaran 1.000 hingga 1.300 yen per jam, tergantung wilayah dan jenis gedung.

    Jika dikonversi ke rupiah, angka ini bisa setara sekitar Rp110.000 hingga Rp145.000 per jam, tergantung kurs berjalan.

    Dengan jam kerja rata-rata 8 jam per hari dan 22 hari kerja per bulan, penghasilan kotor bulanan bisa mencapai 170.000 hingga 220.000 yen. Nominal ini belum termasuk lembur atau tunjangan tertentu.

    Namun perlu dicatat, gaji tersebut adalah gaji kotor (gross salary) sebelum dipotong pajak, asuransi, dan biaya wajib lainnya.

    gaji building cleaning di jepang

    Berapa Potongan Gaji dan Biaya Hidup Building Cleaning di Jepang?

    Salah satu kesalahan umum calon pekerja adalah hanya fokus pada nominal gaji, tanpa menghitung potongan dan biaya hidup.

    Setiap pekerja di Jepang wajib membayar beberapa komponen, antara lain pajak penghasilan(所得税 / Shotokuzei), asuransi kesehatan nasional, dan asuransi pensiun. Total potongan ini bisa mencapai 15 hingga 25 persen dari gaji kotor.

    Selain itu, biaya hidup seperti sewa tempat tinggal, listrik, air, dan transportasi juga perlu diperhitungkan. Meski begitu, banyak perusahaan menyediakan asrama (寮 / Ryou) dengan biaya lebih terjangkau bagi pekerja asing.

    Peluang dan Tantangan bagi Pekerja Indonesia

    Dari sisi peluang, pekerjaan building cleaning di Jepang relatif terbuka bagi tenaga kerja Indonesia karena tidak menuntut kemampuan bahasa Jepang tingkat tinggi. Umumnya, kemampuan dasar N4 sudah cukup untuk komunikasi kerja.

    Namun, tantangan terbesarnya justru ada pada mental dan konsistensi kerja. Pekerjaan ini menuntut ketelitian tinggi dan rutinitas yang sama setiap hari. Bagi sebagian orang, tekanan ini terasa berat, meski secara fisik tidak selalu ekstrem.

    Di sisi lain, banyak pekerja Indonesia yang justru bertahan lama karena sistem kerja Jepang yang jelas, pembayaran tepat waktu, dan lingkungan kerja yang relatif aman.

    Jika dinilai dari perspektif upah per jam, gaji building cleaning di Jepang tergolong layak dan stabil, terutama bagi pekerja yang baru pertama kali bekerja di luar negeri.

    Meski bukan pekerjaan bergaji tinggi, sektor ini menawarkan kepastian hukum, perlindungan tenaga kerja, dan pengalaman kerja internasional.

    Bagi mereka yang memiliki tujuan jangka panjang, pengalaman sebagai building cleaning bisa menjadi batu loncatan untuk memahami budaya kerja Jepang sebelum berpindah ke sektor lain yang lebih spesifik.

    Kesimpulan

    Gaji building cleaning di Jepang tidak bisa dinilai hanya dari angka nominal semata. Di baliknya, terdapat sistem kerja yang rapi, standar profesional tinggi, serta perlindungan hukum yang jelas bagi pekerja.

    Dengan kisaran gaji yang stabil, peluang terbuka bagi tenaga kerja asing, dan kebutuhan yang terus ada, profesi ini tetap relevan hingga saat ini.

    Namun, keputusan untuk bekerja di Jepang tetap harus didasari pemahaman realistis, bukan sekadar iming-iming gaji besar.

    Dengan persiapan bahasa, mental, dan informasi yang tepat, pekerjaan building cleaning di Jepang bisa menjadi langkah awal yang aman dan menjanjikan.

    FAQ

    1. Apakah gaji building cleaning di Jepang dibayar mingguan atau bulanan?

    Gaji building cleaning di Jepang umumnya dibayarkan bulanan sesuai sistem penggajian perusahaan. Pembayaran dilakukan melalui rekening bank Jepang, biasanya pada tanggal tetap setiap bulan. Sistem ini membantu pekerja mengatur keuangan secara lebih terstruktur, terutama untuk kebutuhan rutin seperti sewa dan asuransi.

    2. Apakah pekerja building cleaning di Jepang mendapatkan kenaikan gaji?

    Kenaikan gaji memungkinkan terjadi, tergantung masa kerja, kinerja, dan kebijakan perusahaan. Dalam praktiknya, pekerja yang disiplin dan memiliki catatan kerja baik berpeluang memperoleh penyesuaian upah tahunan atau tambahan tunjangan tertentu, meskipun nominalnya tidak selalu besar.

    3. Apakah pekerjaan building cleaning di Jepang terbuka untuk perempuan?

    Pekerjaan building cleaning di Jepang terbuka untuk laki-laki maupun perempuan. Banyak perusahaan justru mempekerjakan tenaga perempuan karena ketelitian dan konsistensi kerja. Lingkungan kerja relatif aman dan sistem kerjanya sudah diatur secara profesional.

    4. Apakah pengalaman kerja di Indonesia memengaruhi gaji di Jepang?

    Pengalaman kerja di Indonesia tidak selalu berpengaruh langsung pada besaran gaji awal, karena standar upah di Jepang ditentukan oleh regulasi daerah dan kontrak kerja. Namun, pengalaman dapat mempermudah adaptasi kerja dan meningkatkan peluang mendapatkan evaluasi positif dari perusahaan.

    5. Apakah setelah kontrak selesai bisa pindah pekerjaan lain di Jepang?

    Perpindahan pekerjaan di Jepang tidak bisa dilakukan secara bebas karena terikat dengan status visa kerja. Namun, setelah kontrak berakhir, pekerja dapat memperpanjang kontrak atau mengajukan perubahan status sesuai ketentuan imigrasi Jepang dan persetujuan pihak terkait.